Makanan

H-2 Tutup, Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Diantre Sejak Pagi.

Pagi itu, seperti biasa, puluhan orang telah mengular di depan gerai sederhana di kawasan Jalan Kukoh. Namun hari ini berbeda—tak ada aroma rempah khas rendang atau semur yang menyeruak dari dapur. H-2, warung nasi Padang legendaris yang telah melayani Singapura sejak 1948, resmi menutup pintunya untuk selamanya. Bagi banyak warga setempat dan pekerja migran Indonesia, penutupan ini bukan sekadar hilangnya tempat makan, melainkan sirnanya sepotong sejarah yang hangat dan penuh kenangan.

Didirikan oleh pasangan suami-istri asal Payakumbuh, H-2 dikenal sebagai pelopor nasi Padang di Negeri Singa. Dalam tujuh dekade operasinya, warung ini menjadi saksi bisu perjalanan Singapura dari kota pelabuhan menjadi metropolis modern. Menu klasiknya—rendang daging berlemak sempurna, gulai tunjang yang gurih, dan daun ubi tumbuk—tetap dipertahankan resep aslinya. Tak heran jika setiap pagi, antrean mulai terbentuk sejak pukul 08.00, didominasi pekerja konstruksi, sopir taksi, hingga eksekutif muda yang rela sarapan lebih awal demi sepiring nasi dengan lauk favorit.

Penutupan H-2 disebabkan oleh pensiunnya generasi ketiga pengelola yang tak memiliki penerus. Sang cucu pemilik, Ahmad Fauzi (52), menyatakan keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang. “Kami ingin menghormati warisan kakek dengan menutup secara bermartabat, bukan karena bangkrut atau tergesa-gesa,” ujarnya sembari menunjuk foto hitam-putih pendiri warung yang terpajang di dinding. Proses transisi bisnis kuliner keluarga memang kerap menghadapi tantangan kompleks yang memerlukan kebijakan waralaba yang matang dan berkelanjutan seperti yang dijelaskan dalam https://harberthouse.net/POLICIES.html.

Bagi komunitas Minang di Singapura, kepergian H-2 meninggalkan kekosongan budaya. Tempat ini tak hanya menjadi pusat kuliner, tetapi juga ruang silaturahmi tempat kabar kampung halaman dibagi sambil menikmati secangkir teh tarik. Beberapa pelanggan setia bahkan datang dari Johor Bahru hanya untuk mengabadikan momen terakhir bersama H-2. “Rasanya seperti kehilangan saudara,” ungkap seorang nenek berusia 78 tahun sambil mengusap air mata.

Kehadiran H-2 juga menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Singapura. Banyak warga lokal yang pertama kali mengenal kuliner Minang melalui warung ini. Kini, estafet dilewatkan kepada generasi baru restoran Padang yang lebih modern, namun jejak H-2 akan tetap hidup dalam memori kolektif pecinta kuliner Nusantara di Singapura. Penutupan ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap hidangan lezat, tersimpan kisah perjuangan, cinta, dan identitas yang layak dihargai—sebelum semuanya tinggal kenangan.